Meminjam bahasa Gunawan Wiradi, hari ini kita tidak sedang berhadap-hadapan dengan kapitalis, namun kita sedang berada di rahim kapitalisme.

Logika kapital tidak mengenal suku, agama ataupun ras. Semisal pengelompokan asing dan pribumi, karena kapital bekerja lintas negara, melampaui teritorial. Cara kerja sistem kapital sudah begitu canggih menyusup dalam sendi kehidupan manusia.

Sekalipun fase feodal dan perbudakan secara historis sudah dilewati, namun kita memasuki fase kapital yang cara kerjanya tidak jauh berbeda namun lebih halus. Eksploitasi terselebung. Menghisap tapi membuat yang dihisap keenakan. Merampas namun menjadikan korban pasrah dengan keadaan.

Hari ini, banyak kerja kerja yang tidak dibayar. Tugas istri merawat suami agar bisa kerja di pabrik dengan prima. Namun kalkulasi Standar Hidup Layak sebagai kompensasi buruh tidak melibatkan kehidupan istri dan anak sebagai imbalan (upah). Aktivitas seorang istri yang merawat suaminya adalah Reproduksi Work. Dengan kata lain, perbuatan tersebut merupakan mata rantai dari produksi yang dilakukan perusahaan. Apakah dibayar?

Berlaku juga untuk masyarakat yang hidup di sekitar pabrik. Katakanlah pabrik semen, tugas paru paru masyarakat yang hidup disana adalah menghisap polisi pabrik. Apakah mereka dibayar? Paling besar menerima dana SCR yang tidak seberapa dibanding ruang hidup mereka yang mulai tercerabut dari kehidupan sebelumnya.

Ada pernyataan menarik dari Karl Marx, ketika seseorang melakukan konsumsi apakah ia benar benar mengkonsumsi. Sebenarnya mereka sedang memproduksi buruh.

Ada yang bisa menghitung berapa jumlah sepatu yang diproduksi oleh perusahaan sepatu? Tidak ada yang tau, tapi yang jelas jumlahnya lebih banyak daripada kaki manusia. Dan logika kapital akan selalu mencarai alasan masuk akal untuk dituangkan ke dalam otak konsumen agar menjadi pembeli sepatu. Begitupun untuk produk produk lain.

Dulu kita hanya mengenal satu sabun untuk seluruh anggota badan. Namun hari ini ada begitu banyak sabun untuk perawatan tubuh. Sabun muka, sabun kepala, sabun cair, sabun batangan dan lain sebagainya. Fenomena ini merupakan sebuah keharusan dari ekspansi kapital. Karena seorang pengusaha akan merasa bangkrut jika bisnis yang dijalankan menghasilkan laba yang sama dari tahun ke tahun. Logika ini juga diaminkan oleh sebagian Agamawan lewat nasihat sebaik baik manusia adalah yang hari ini lebih baik dari kemarin.

Jika ada relasi sosial yang tidak memerlukan uang, maka kapitalis akan menjadikannya sebagai peluang.

Perluasan kapital adalah fitrah dari kapital itu sendiri. Membesar dan mengeksploitasi. Benturan kepentingan yang berakhir pada perampasan ruang hidup merupakan konsekuensi logis pertumbuhan sirkuit kapital. Inilah kemudian yang menjadi awal mula dari enclosure (pemagaran) manusia dengan ruang hidupnya.

Misal, pemagaran seorang petani dari tanahnya agar bisa menghasilkan buruh tani yang murah. Pisahkan seorang ibu dari anaknya untuk menghidupkan bisnis babysitter, munculnya industri PAUD adalah makna lain bahwa banyak ibu ibu yang sudah tidak punya waktu mengurus anaknya. Orangtua yang telah terjebak lebih dahulu dalam perampasan ruang hidup.

Beberapa Minggu lalu, masyarakat Indonesia dihebohkan dengan persoalan turunnya daya beli masyarakat.

Siapa yang ketakutan? Ya, semua masyarakat yang sudah kadung terjebak dalam sistem kapitalis. Karena daya beli masyarakat yang turun adalah alarm kehancuran bagi kapitalisme. Tentu saja ini makna lain dari hilangnya pundi pundi kekayaan para kapitalis. Krisis ekonomi adalah krisis kapitalis itu sendiri.

Meminjam bahasa Gunawan Wiradi, hari ini kita tidak sedang berhadap-hadapan dengan kapitalis, namun kita sedang berada di rahim kapitalisme.

Mari berserikat untuk melawan. Bersatulah!

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *