Ketimpangan penguasaan sumber daya alam. Gap kekayaan antara si kaya dan si miskin yang menganga lebar adalah makna lain dari adanya proses pemiskinan.

Sebelum masuk masa kapitalisme, dunia pernah terperangkap dalam era feodalisme yang cukup lama. Manusia banyak yang menjadi budak-budak kerajaan. Dipaksa untuk bekerja rodi, dirampas kemerdekaan dan segala kepemilikan. Alternatif penghidupan tidak sebanyak sekarang. Pilihannya, jika tak mau diperbudak, mereka harus memiliki kekuasaan.

Dalam hikayat Nabi Adam, dianalogikan bahwa saat manusia memasuki era kapitalisme adalah bentuk lain dari gambaran neraka. Bayangkan, ditengah sumber daya alam yang begitu melimpah, masih banyak orang yang mati kelaparan. Bukan karena makanannya tidak ada, stoknya begitu beragam di deretan rak-rak supermaket, tapi hanya segelintir orang saja yang boleh mengaksesnya.

Lagi-lagi di tengah industri farmasi yang hadir dengan segala varian di etalase rumah sakit, masih banyak orang yang meninggal karena tidak mampu membeli obat. Inilah neraka ala kapitalisme!

Seorang ibu rumah tangga dengan kondisi hamil tua dipaksa bekerja oleh sistem. Berkeringat dan susah payah menjaga kandungan agar tak keguguran. Bukan karena tidak punya suami, namun gabungan gajih suami dan istri belum cukup untuk kebutuhan sehari hari dan persiapan bersalin. Bukankah ini neraka dunia?

Sementara surga yang ditempati Nabi Adam sebelum makan ‘buah Khuldi’, adalah gambaran dari dunia yang belum mengenal sifat egois dan individual. Belum terjamah oleh hasrat rakus manusia manusia serakah. Hidup masih berkelompok (komunal/jamaah) dan masih memikirkan antar satu sama lain.

Peralihan feodal ke kapital ditandai perubahan struktur kelas sosial. Kelas penguasa (raja) yang pada mulanya mengekang kendali kemerdekaan manusia kebanyakan (proletar) diambil alih oleh kelas Borjuis yang terlihat seakan-akan lebih kolaboratif dan manusia secara kasat mata.

Jika para feodalis memperlakukan budak lewat serangkaian kekejaman fisik dan perbudakan, tidak dengan Kapitalis. Kelas pekerja memang tidak dipaksa untuk bekerja dengan pemaksaan dan intimidasi, tapi pekerja akan bekerja dengan sendirinya karena memang sudah tidak ada pilihan lagi. Kepemilikan mereka hanyalah cerita masa lalu.

Kerja kapitalisme adalah aktualisasi feodalisme yang makin halus. Sama-sama merenggut kebebasan manusia. Sama-sama memisahkan manusia dari penghidupannya. Menceraikan produsen dari alat-alat produksi mereka.

Perampasan tanah dan proses pemisahan masyarakat dari alat produksinya adalah mekanisme yang diciptakan kapitalisme untuk menyediakan buruh. Misal, petani dari tanahnya. Nelayan dari lautnya dan peternak dari hewan piaran mereka. Sekilas memang merdeka, namun kehidupan dari sektor hulu ke hilir sudah diatur begitu cantik oleh para kapitalis.

Petani dibiarkan tetap jadi petani, namun yang punya lahan, bibit, pupuk dan pasar adalah kapitalis. Nelayannya boleh siapa saja, namun lautnya, ikannya, pasarnya sudah disusun begitu canggih oleh tangan tangan tak terlihat yang dibahasakan oleh Adam Smith. Sekalipun tak terlihat tapi daya tamparnya luar bisa.

Kekuasaan harus dilegitimasi oleh pengetahuan. Kekuasaan di bidang apapun itu, tak terlepas penguasaan kapital. Tak heran bila kapitalis cenderung memproduksi Narasi kebenaran versi mereka sendiri. Untuk melazimkan maraknya kemiskinan, hadirlah narasi miskin karena malas. Miskin karena bodoh dan sederet narasi sesat lainnya.

Desa dan pesisir pantai adalah kantung kemiskinan paling nampak. Membayangkan mereka yang berprofesi petani dan nelayan sebagai sosok pemalas, rasa-rasanya dosa besar. Klaim sepihak yang tidak mempunyai pijakan empiris. Petani berangkat ke ladang di pagi buta, pulang menjelang petang, atas dasar apa kita sebut mereka malas. Petani dengan segala pengetahuan dan skill bercocok tanam serta kemampuan pembacaan terhadap alam, atas dasar apa kita anggar mereka bodoh.

Ketimpangan penguasaan sumber daya alam. Gap kekayaan antara si kaya dan si miskin yang menganga lebar adalah makna lain dari adanya proses pemiskinan.

Orang miskin bukan karena malas, tapi mereka terlanjur terjebak dalam sistem kapitalisme yang hanya menjadikannya sebagai alat. Tanpa pekerja, usaha kapitalis tidak mampu menghidupi dirinya sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *